Srupp Segarnya Aroma Teh

•February 23, 2007 • Leave a Comment

republika

Di Indonesia, minum teh adalah minum air yang mengandung seduhan daun teh. Untuk menambah nikmat biasanya ditambahkan gula. Biasanya minuman teh disajikan pagi, siang, atau sore hari, dan seringkali tak ada aturannya. Jika ingin minum teh, kita tinggal buat sendiri atau pesan. Wadahnya sesukanya, bisa gelas bisa cangkir. Diminumnya nikmat jika mengangkat kaki sambil mengunyah singkong goreng atau rebus.

Minum teh di sini sangat berbeda dengan tradisi minum teh di negeri Jepang yang masyarakatnya menghormati teh. Sampai-sampai untuk minum teh saja, mereka lakukan dengan upacara.

Menurut sejarah, tradisi minum teh itu sebenarnya berasal dari daratan Cina. Teh tumbuh di Tiongkok sekitar 6.000 tahun yang lampau dan manusia telah membudidayakan teh sejak 2.000 tahun lalu. Bersama dengan sutra dan porselen, teh yang berasal dari Tiongkok ini mulai dikenal dunia lebih dari 1.000 tahun lalu.

Budaya minum teh menyebar ke Jepang sekitar abad ke-6 dan diperkirakan menjadi tradisi di Jepang selama masa Kamakura (1192-1333) oleh pengikut Zen. Kebiasaan pengikut aliran Zen minum teh agar mereka tetap terjaga selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Selama abad ke-15, ini menjadi acara tetap berkumpul di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal. Selanjutnya, masuk ke Eropa dan Amerika di abad 17 dan 18.

Orang Inggris termasuk penggemar berat minum teh. Acara minum yang biasa dilakukan mereka selalu sore sambil makan camilan. Kini, sudah lebih dari 40 negara memproduksi teh dan negara-negara Asia memproduksi 90 persen dari total komoditi teh di dunia. Bayangkan berapa banyak pula perangkat minum teh yang sudah dibuat dan akan dibuat.

Kegiatan tea walk atau jalan-jalan di perkebunan teh di Indonesia sebenarnya sudah sejak lama dilakukan seiring dengan banyaknya perkebunan teh di Indonesia. Dari zaman penjajahan Belanda, banyak tuan tanah dan juragan perkebunan teh seringkali mengadakan acara jalan-jalan bagi tamunya.

Seusai kemerdekaan, perkebunan teh yang tersebar di daerah-daerah pegunungan di Indonesia banyak yang dinasionalisasi. Saat itu, acara tea walk kurang begitu bergema. Baru awal 80 an, banyak pecinta alam yang tadinya berniat ke gunung seringkali melewati perkebunan-perkebunan teh. Entah siapa yang memulai, acara tea walk ini kemudian menjadi acara tetap sejumlah perusahaan yang menginginkan acara rekreasi dengan biaya murah.

Di beberapa daerah khususnya di kawasan Cianjur dan Bandung Jawa Barat, beberapa perkebunan teh sengaja menjual kawasannya kepada perusahaan-perusahaan yang sengaja mengadakan acara tea walk buat karyawannya. Dan hasilnya memang luar biasa. Hingga sekarang, setiap pekan selalu saja ada acara tea walk di beberapa perkebunan yang sengaja diadakan oleh beberapa perusahaan untuk karyawannya.

sumber: republika

Hati-hati dengan Teh Celup

•February 22, 2007 • 2 Comments

anangsblog

Buat yang pernah berkunjung ke pabrik kertas/pulp, mungkin tahu bahwa chlorine ini adalah senyawa kimia yang sangat jahat dengan lingkungan dan manusia, khususnya dapat menyerang syaraf dsb!

Dari kejauhan pabrik mudah dilihat jika ada asap berwarna kuning yang mengepul dari pabrik, itu bukan asap biasa tapi chlorine gas. Makanya industri ini mendapat serangan hebat dari LSM lingkungan karena hal di atas disamping juga masalah kehutanan.

Kertas terbuat dari bubur pulp yang berwarna coklat tua kehitaman. Agar serat berwarna putih, diperlukan sejenis bahan pengelantang (sejenis rinso/baycline) senyawa chlorine yang kekuatan sangat keras sekali! Kertas sama dengan kain, karena memiliki serat. Kalau anda mo uji bener apa tidaknya, silahkan coba nanti malam bawa tissue ke Studio East, lihatlah tissue akan mengeluarkan cahaya saat kena sinar ultraviolet dari lampu disco! Berarti masih mengandung chlorine tinggi.

Kalau di negara maju, produk ini harus melakukan proses neutralization dgn biaya cukup mahal agar terbebas dari chlorine dan dapet label kesehatan. Tissue atau kertas makanan dari negera maju yang dapet label depkesnya tidak bakalan mengeluarkan cahaya tsb saat kena UV. Kertas rokok samimawon, bahkan ada calsium carbonat agar daya bakarnya sama dengan tembakau dan akan terurai jadi CO saat dibakar.

Di Indonesia tidak ada yang kontrol, jadi harap berhati-hati. Pls protect your families!

Saran:
Kembali minum teh tubruk ala kampung lagi..! Pake saputangan ‘merah jambu’ lagi biar mesra! Merokok dengan daun atau cangklong lagi! Back to 60’s style….he…he…he Minumlah Teh, bukan Klorin… Anda gemar minum teh? Dan, sebagai manusia modern Anda tentu suka segala sesuatu yang praktis, kan? Nah, Anda tentu sering minum teh menggunakan teh celup. Selain karena suka rasa teh, mungkin Anda minum teh karena yakin akan berbagai khasiat teh. Misalnya, teh merah untuk relaksasi, teh hitam untuk pencernaan, atau teh hijau untuk melangsingkan tubuh. Namun, apa Anda terbiasa mencelupkan kantong teh celup berlama-lama?

Mungkin, pikir Anda, semakin lama kantong teh dicelupkan dalam air panas, makin banyak khasiat teh tertinggal dalam minuman teh… Padahal, yang terjadi justru sama sekali berbeda! Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh lebih dari 3 – 5 menit.

Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, hingga kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang, dan kanker.

Nah, mulai sekarang, jangan biarkan teh celup Anda tercelup lebih dari 5 menit. Atau, kembali ke cara yang sedikit repot, gunakan daun teh.

sumber: anangsblog

Budaya minum teh

•February 21, 2007 • Leave a Comment

Jakarta: Budaya minum teh sangat populer di masyarakat Cina, Jepang, dan Inggris. Belakangan, masyarakat Jakarta pun mulai menikmati teh melalui ritual sebuah jamuan sebagai gaya hidup baru. Di antaranya adalah jamuan kungfu tea yang hanya berlangsung sekitar 15 menit untuk 2 hingga 3 orang saja. Seperti namanya, menurut penikmat teh bernama Lily di Jakarta, baru-baru ini, jamuan kungfu tea berasal dari Cina. Jamuan ini biasa digelar untuk perayaan kebahagiaan. Sementara teh yang dipakai lazimnya adalah teh Kuan Im dari jenis black tea.

Minum teh pun kini biasa dilakukan di sebuah lounge atau kafe. Sementara rasa dan penyajiannya pun kian menarik. Untuk memancing minat masyarakat, sajian teh dikembangkan mengikuti selera pasar, seperti cocktail tea atau teh herbal yang rasanya lebih segar. Untuk pasar anak muda, pengelola sebuah tea lounge Imam Rachmadi mengatakan, pihaknya menyediakan teh khusus. Yaitu, black currant tea yang dicampur dengan soda, dan es serut. Teh ini juga disajikan dalam gelas besar sehingga lebih menarik. “Diharapkan, setelah mencicipi black currant tea kaum muda juga tertarik mencoba jenis teh lainnya,” kata Imam. Black currant tea juga bisa dijadikan bumbu makanan pasta khas Italia, seperti spaghetti.

Sebagian orang juga mengkonsumsi teh dengan tujuan kesehatan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, senyawa katekin yang terdapat dalam daun teh dapat mencegah munculnya beberapa jenis kanker. Pasalnya, katekin bersifat antimutagen. Sedangkan senyawa polyfenol dalam teh dapat menetralisasi zat yang karsinogenis [bersifat memicu kanker]. Mengkonsumsi teh secara teratur juga bisa mengurangi penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, dan menyusutkan berat badan. Kelebihan berat badan dan kegemukan terjadi karena masukan energi lebih besar dari yang digunakan. Nah, polyfenol teh akan menghambat penyerapan vitamin B-1. Hal itu akan mengurangi metabolisme gula darah yang selanjutnya berpengaruh pada pengurangan berat badan.

Meminum teh juga bisa membangkitkan rasa segar. Senyawa teh yang berjasa mengantarkan rasa segar di antaranya adalah kafein. Kafein teh berbeda dengan kafein dalam kopi. Meski kadar kafein dalam teh lebih tinggi 1-5 persen, efek sampingnya tidak seburuk kafein pada kopi. Kafein dalam kopi diserap di lambung sehingga resorpsi–penyerapan ulang–ke dalam aliran darah menjadi cepat. Sedangkan kafein dalam teh diserap di usus, sehingga resorpsi ke dalam aliran darah melalui proses yang sangat kompleks dan lambat. Itulah sebabnya, bagi mereka yang pencernaannya sensitif, disarankan mendapatkan kafein dari teh ketimbang dari kopi. Sebab, pencernaan yang peka lebih toleran terhadap kafein teh.

Kesegaran yang ditimbulkan teh mencapai puncaknya setelah 40 menit meminum. Kesegaran akan lenyap 30 menit kemudian. Karena itu, untuk mempertahankan kesegaran tubuh sebaiknya teh diminum secara bertahap. Misalnya, setiap setengah atau satu jam, minumlah 4-5 teguk. Jadi, teh tidak diludeskan dalam sekali tenggak.

Efek psikis kafein teh terutama disebabkan daya stimulasinya terhadap susunan saraf pusat. Meminum teh lima gram dapat memacu dan memperbaiki tingkat kesadaran dan kerja intelektual otak. Di antaranya menghitung, menghapal, membaca, dan daya pembedaan. Selain itu, minum teh juga membuat daya asosiasi otak menjadi lebih jelas dan plastis. Hasil penelitian menunjukkan, minum teh secara teratur dapat mendorong prestasi sampai optimal, sekaligus memperbaiki kualitas hasil kerja. Hal itu tercermin pada berkurangnya frekuensi membuat kesalahan dalam pekerjaan yang memerlukan konsentrasi penuh. Kendati demikian, perlu diingat bahwa minum teh bukanlah terapi suatu penyakit. Efek kesehatan dari teh hanya bersifat preventif. Itu pun hanya bermakna jika teh diminum secara teratur dengan cara yang tepat.

Sejauh ini, ada tiga jenis produk teh yang dikenal. Selain teh hitam atau black tea, ada pula teh oolong, dan teh hijau. Ketiganya dibedakan dari cara pengolahannya. Teh hitam diolah dengan cara fermentasi penuh. Warna seduhannya merah agak pekat. Sedangkan teh hijau diolah tanpa proses fermentasi dan warna seduhannya kuning hijau dengan rasa lebih sepet. Sementara teh oolong yang dikenal sebagai teh gunung atau teh wangi, diolah dengan cara setengah fermentasi. Rasanya pun gabungan dari teh hijau dan teh hitam. Cara pengolahan ini berpengaruh terhadap kandungan senyawa dalam jenis teh. Senyawa-senyawa yang masih tersisa dalam seduhan, akan mengoptimalkan daya kerja teh menyegarkan dan menyehatkan tubuh si peminum.

Sejarah teh sendiri berawal dari kebudayaan Cina kuno. Berdasarkan mitos, teh diyakini pertama kali ditemukan oleh Kaisar Cina Shen Nung secara tak sengaja pada 2737 Sebelum Masehi. Kaisar ini dikenal sebagai seniman dan ilmuwan–saat itu, sebelum kuman dan virus ditemukan, ia sudah mengetahui bahwa air minum harus dimasak dulu agar higienis. Suatu hari di musim panas, kaisar mengunjungi sebuah daerah kerajaan yang cukup jauh. Di tengah jalan, Shen dan rombongan berhenti untuk istirahat dan memerintahkan pelayannya memasak air. Tiba-tiba, daun-daun kering dari semak belukar terbang dan jatuh ke dalam panci rebusan air. Akibatnya, warna air pun berubah menjadi kecoklatan. Lantas, Shen meminum cairan baru tersebut dan tubuhnya pun merasa segar.

Berdasarkan catatan sejarah, pada 800 Masehi konsumsi teh sudah menyebar di semua lapisan masyarakat Cina. Pada era itu, Lu Yu menulis buku pertama tentang teh berjudul “Ch`a Ching”. Dia juga mengembangkan sejumlah metode pengolahan teh semasa hidupnya. Teh olahan Lu Yu pun kemudian menjadi langganan penguasa kerajaan saat itu.

Kemudian, budaya minum merambah ke Jepang. Benih teh pertama kali dibawa ke Jepang oleh pendeta Budha bernama Yeisei. Maklum, dia telah membuktikan khasiat teh di Cina yang diminum saat bermeditasi. Yeisei kemudian disebut sebagai Bapak Teh di Negeri Matahari Terbit. Karena berkembang dari lingkungan kependetaan, teh pun selalu diasosiasikan dengan ajaran Zen. Kebiasaan minum teh lalu meningkat menjadi sebuah seni. Bahkan menjadi suatu upacara sakral bernama “Cha No Yu” yang berarti air panas untuk teh.

Upacara minum teh di Jepang, seperti dilukiskan jurnalis dan sejarawan keturunan Yunani-Irlandia Lafcadio Hearn, adalah suatu rangkaian prosesi yang sangat kompleks. Kendati demikian, prosesi upacara teh di Jepang sangat indah. Pada perkembangannya, para geisha menjadi spesialis dalam menyajikan teh. Namun, nilai-nilai paham Zen dalam ritual minum teh pun mulai hilang seiring dengan populernya minuman dari pucuk daun tersebut. Upacara minum teh dijadikan suatu kompetisi di kalangan para bangsawan dan hartawan. Pemenangnya dihadiahi barang-barang mewah seperti kain sutra, perhiasan, bahkan senjata. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat Zen yang mengajarkan minum teh sebagai suatu cara relaksasi dan meditasi religius. Beruntunglah, sejumlah tokoh masyarakat Jepang–di antaranya Pangeran Ikkyu yang hidup antara 1394-1481–mengembalikan kemurnian makna di balik upacara minum teh.

Saat budaya minum teh sudah berkembang pesat di Jepang dan Cina, masyarakat Eropa justru belum mengenal teh. Sejumlah pengelana asal Eropa memang pernah menyebut-nyebut daun tersebut. Namun, mereka tak pernah menjelaskan cara mengkonsumsi dan menyajikannya. Beberapa di antaranya bahkan menganjurkan untuk memasak daun teh, kemudian digarami dan diberi mentega. Setelah itu baru dimakan.

Jasper de Cruz dari Portugis adalah orang yang pertama memperkenalkan teh ke masyarakat Eropa pada 1560. Sejak saat itu, pemerintah Portugis pun membuka jalur perdagangan ke Cina untuk mendapatkan teh. Akhirnya, komoditi teh pun menyebar dari Portugis hingga ke bagian utara Eropa, seperti Prancis, dan Belanda. Pada 1650, Peter Stuyvesant dari Belanda membawa teh ke koloni belanda di New Amsterdam (yang kemudian disebut New York oleh orang Inggris), Amerika Serikat.

Anehnya, Inggris baru mengenal teh setelah warga New Amsterdam terkenal sebagai masyarakat peminum teh. Sampel teh pertama mencapai Inggris pada kurun 1652 and 1654. Namun, teh dengan cepat menjadi minuman yang sangat populer sehingga menggantikan ale–semacam bir–sebagai minuman nasional Inggris. Bahkan, hingga kini Inggris dikenal sebagai bangsa berbudaya minum teh.

sumber: Liputan6.com
 

Chanoyu Jepang, Ajarkan Kedisiplinan

•February 19, 2007 • Leave a Comment

MAKASSAR–Upacara minum teh di jepang (Chanoyu), ternyata tidak sekadar tradisi biasa, tapi membawa tujuan sosial dalam beberapa aspek kehidupan. Ritual yang coba diperkenalkan Konsulat Jepang kepada masyarakat Makassar ini, memiliki kedekatan kultur dengan Makassar, yaitu penghargaan kepada tamu dan penekanan kedisiplinan.Chanoyu, yang berkembang di Jepang sejak ratusan tahun silam, punya daya tarik di pelajari. Buktinya, beberapa pelajar SMU di Makassar, misalnya SMU Muhammadiyah, menjadikannya sebagai mata pelajaran tambahan, yakni, Bahasa dan Budaya Jepang.

Oleh Konjen Jepang, tradisi ini diperagakkan di taman budaya Kaori, Kamis 11 Januari, kemarin. Dikatakan Tekemori Akinori, dari konsul Jepang, kepada Fajar, Jepang katanya sangat menghargai ritual minum teh. “Itu dilakukan untuk menyambut tamu, atau dalam keluarga sendiri,” ujarnya. Namun, ujarnya lagi, prosesinya tentu berbeda dengan negara-negara lainnya. Minum teh dilakukan dengan penuh makna. Seperti dia katakan, bila dilakukan dengan ideal, dapat mengarahkan pelakunya pada pemenuhan jiwa dan pandangan mengenai tujuan hidup. ”

“Orang Jepang sangat menghargai hidup,” tukas Takemori. Orang Sulsel juga menghargai tamu, tentu dengan cara yang berbeda juga. Kalau barat katanya dengan cara spontan, kami lakukan upacara minum teh dengan penuh makna. Teh yang dipakai juga adalah teh hijau yang kental. Menurut Shoko Matsuoka, vice konsul, yang memperagakan cara minum teh ideal, teh hijau katanya menyehatkan dan orang Jepang tidak suka menambahkan gula.

Teh diminum dalam keadaan pekat, biar alami, kata Shoko. Cara meracik lalu menyajikannya pada tamu, hingga bagaimana cara tamu meminumnya, kata Shoko, semua punya aturan. Teh disajikan pada cawan, dan meneguknya juga harus tertib dan mesti dihabiskan. Sebelum minum, seseorang memberi penghormatan dulu pada orang sekelilingnya dengan menundukan kepala lebih rendah. Barulah kata Shoko, teh diminum dengan duduk model bersimpuh. Model seperti itu, menurut Takemori, mengajari manusia untuk tidak gegabah dan belajar keteraaturan hidup.

sumber; fajar online

Cara menyedu Teh Tubruk yang benar

•February 17, 2007 • 1 Comment

Membuat Minuman teh Tubruk yang Nasgitel ( Panas legi tur kentel) Utooowo Wasgitel ( Wangi sepet legi tur kentel) ,tidak bisa dilakukan sembarangan. Yang benar dan betul adalah sebagai berikut:
– Pertama harus beli tehnya dulu, bisa merk Tong Jit, Tang, Catut, Botol, Jeruk dlsbgnya
– Harus punya uang untuk membelinya, baik ke warung Supermarket, Carefour atau Giant
– Harus mau jalan menuju ketempat penjualan, dan keadaan badan sehat wal afiat.
– Kalau sudah dibeli jangan lupa dibyar, dan dibawa pulang kerumah.

Berikutnya , ini tahap kedua
– Punya panci,ceret, kaleng tempolong, wajan,dandang untuk merebus air.
– Punya kompor baik minyak tanah atau LPG, yang masih ada minyaknya atau LPGnya, untuk yang kompor minyak harus ada sumbunya.
– Kompor itu harus bisa dinyalakan baik dengan korek api atau pematiknya Tahap ketiga.
– Harus punya air yang layak dimasak , jangan sekali kali pakai air accu zir, air raksa, air keras

Setelah air dimasak dalam ceret, sampai mendidih, maka tunggulah sampai suhunya mencapai 70 derajat celsius. Coba dihiotung berapa derajat Fahrenheit…….Coba Bardhono kamu jawab………berapa? Ojo mung nyekeli
pucuk klambi wae, nek ngono sedini yo ora kejawab. Kalau anda mempunyai poci tanah, isilha teh Poci, atau Tong Jit setengahnya bungkus.

Tuangkan air yang bersuhu 70 derajat tadi, kedalam poci berisi teh , dan diamkan selama 15 samapi 20 menit.
Sementara menunggu teh larut, boleh siapkan gula batu sebesar ibu jari atau sekepel , ini yang namanya Gajah nderum. Do you know the meaning of nderum? Coba Gumulyo kamu menjawabnya. Setelah 20 meniy teh tubruk dalam poci terlarut , maka tuangkan air teh tersebut kedalam cangkir yang sudah dibubuhi gula batu tersebut.aduklah dan
siap diminum. Sepertinya mudah ya, dalam membuat teh, tapi ternyata kalau anda mengikuti apa yang saya sarankan terlihat susah kan. Jadi tidak semudah apa yang anda bayangakan dan pikirkan tho………..sekian semoga bermanfaat.

sumber: milis debritto

Yohanes Budhiatmono
e-mail address ; [EMAIL PROTECTED]
Health & Safety Dept.
0254- 601252 ext 3451,3452,3401,3402

TEH HIJAU ( Green Tea )

•February 16, 2007 • 2 Comments

Teh hijau adalah teh yang dibuat dari daun tanaman teh (Camellia sinensis) yang dipetik dan mengalami proses pemanasan untuk mencegah oksidasi, atau bisa juga berarti minuman yang dihasilkan dari menyeduh daun teh tersebut.

Teh termasuk minuman paling banyak dikonsumsi masyarakat. Di Indonesia, semua kalangan, dari bawah hingga atas, tak ada yang tak mengenal minuman khas Asia ini. Di Bumi Parahyangan, Jawa Barat, umpamanya, minuman teh menjadi minuman wajib untuk menjamu tamu. Di rumah makan atau warung Sunda pun setiap tamu selalu disodori minuman teh tawar lebih dulu sebelum makanan atau minuman yang dipesan disajikan. Di warteg juga sama, ngak `seru` kalo ngak ada teh angetnya, kadang kalau minumnya sampai nambah…. Tapi di Indonesia lebih banyak yg mengkonsumsi teh hitam dibanding teh hijau…. nah dengan informasi ini semoga menjadi lebih banyak yg beralih ke teh hijau…

Teh hijau merupakan minuman populer di daratan Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Jepang dan Asia Tenggara, dan saat ini sudah semakin dikenal juga di negara Barat yang dulunya merupakan peminum teh hitam.

Bahkan di Jepang dikenal adanya upacara minum teh. Rangkaian upacara ini diawali dengan pembersihan teko penyajian, memasak air, menuang teh hijau ke dalam teko tadi, menuang air panas ke dalamnya, mengaduknya sampai rata dan berbuih, serta kemudian menyajikannya pada tamu dengan tata cara khas Jepang. Mesti upacara ini kelihatannya sederhana, tapi ada suatu getaran ritual dilibatkan, yang membuat upacara minum teh ini suatu seni yang bertahan berabad-abad hingga sekarang.

Selain nilai-nilai kultural dan ritual tadi, teh hijau banyak memberi manfaat buat kesehatan :

Menghambat pembentukan kanker.

Mencegah penyakit jantung dan stroke.

Menstimulir sistem sirkulasi, memperkuat pembuluh darah, dan menurunkan kolesterol dalam darah.

Meningkatkan jumlah sel darah putih yang bertanggung jawab melawan infeksi.

Mencegah serangan influenza.

Menurunkan stress

Dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan makanan dan penyakit macam kolera, tipes dan desentri. Di dalam buku Shennong Bencao, Sennong mencatat 72 jenis tanaman beracun yang dapat dinetralisir oleh teh.

Teh dapat menurunkan angka serangan diare.

Membantu menghambat infeksi tenggorokan.

Memperbaiki konsentrasi, ketajaman perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.

Bisa pula digunakan sebagai obat luar untuk beberapa penyakit. Di Cina, umpamanya, teh hijau digunakan sebagai obat rumah untuk menyembuhkan luka atau mencegah penyakit kulit dan penyakit kaki karena kutu air.

Sebagai bahan-bahan kosmetik. Di antaranya, untuk lotion; cream antiseptik; produk-produk perawatan rambut macam shampo atau conditioner; perawatan mulut seperti pasta gigi, mouthwash, dan pelindung bibir; deodoran; produk pembersih macam sabun atau pembersih kulit; perawatan tubuh seperti hand & body lotion; perawatan kaki; dan produk-produk pelindung tubuh dari sengatan matahari atau yang diperlukan selama perjalanan.

Memperkuat gigi, juga baik untuk melawan osteoporosis.

Membantu menurunkan resiko penyakit mental ketika seseorang beranjak tua.

Beragam manfaat teh tadi tentu tak lepas dari keberadaan senyawa-senyawa dan sifat-sifat yang ada pada daun teh. Setidaknya terdapat 450 senyawa organik dan lebih dari satu senyawa anorganik bisa ditemukan dalam daun teh. Menurut Tea Board India, dalam secangkir teh terkandung energi sekitar 4 kkal, di samping flour, mangan, vitamin B kompleks, asam nikotinat, dan asam pantotenat.
Hasil penelitian membuktikan teh mengandung senyawa utama yang disebut polyphenol, sejumlah vitamin (niacin atau vitamin B kompleks seperti vitamin B1 dan B2; serta vitamin C, E, dan K), dan mineral (a.l. mangan, potasium, dan fluor). Kandungan vitamin B2 teh kira-kira 10 kali lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat pada sereal dan sayuran. Vitamin C-nya pun lebih tinggi dari buah apel, tomat, atau jeruk. Dengan kata lain, dua cangkir teh hijau memiliki vitamin C sama banyaknya dengan segelas besar jus jeruk.

Di dalam teh juga terkandung kafein. Pada teh hijau juga ditemukan adanya catechin, r-amino butyric acid, flavonoid, polisakarida, dan fluoride. Tak ketinggalan, minyak esensial yang memberi teh aroma khas dan keharuman.
Teh hijau (ryokucha) adalah teh yang sangat umum di Jepang sehingga bila disebut “teh” (ocha) maka kemungkinan besar yang dimaksudkan adalah teh hijau, dan baru disebut sebagai teh Jepang (nihoncha) kalau memang tersedia pilihan teh yang lain. Teh biasanya dijual dengan harga yang bergantung pada kualitas dan bagian dari tanaman yang dibuat teh.

Jenis-jenis teh hijau yang umum:

Gyokuro
Teh terpilih dari daun teh kelas atas yang disebut Tencha. Teh dinamakan Gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai aroma yang sangat harum.

Matcha
Teh hijau berkualitas tinggi yang digiling menjadi bubuk teh dan dipakai untuk upacara minum teh. Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan sebagai perasa untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional Jepang (wagashi), berbagai permen dan coklat.

Sencha
Teh hijau yang biasa diminum sehari-hari, dibuat dari daun yang dibiarkan terpapar sinar matahari.

Genmaicha
Teh jenis bancha dengan campuran butiran beras yang belum disosoh (genmai) yang dibuat menjadi berondong. Teh mempunyai aroma wangi butiran beras yang setengah gosong.

Kabusecha
Teh jenis sencha yang daunnya dilindungi untuk beberapa lama dari terpaan sinar matahari sebelum dipanen. Aroma teh kabusecha sedikit lebih lembut dibandingkan dengan teh sencha.

Bancha
Teh kasar yang dibuat dari panenan yang kedua kali antara musim panas dan musim gugur. Daun teh untuk teh bancha biasanya lebih besar dari daun teh sencha dan aromanya tidak begitu harum.

Hojicha
Teh yang digongseng di atas penggorengan atau di dalam oven.

Kukicha
Teh berkualitas rendah dari daun teh bercampur tangkai daun teh

Proses Produksi Teh Hijau

1. Proses Pelayuan

Setelah penerimaan pucuk dari kebun, daun teh ditebar & diaduk-aduk untuk mengurangi kandungan air yang terbawa pada daun. Setelah itu daun teh dilayukan dengan melewatkan daun tersebut pada silinder panas ± sekitar 5 menit (sistim panning) atau dilewatkan beberapa saat pada uap panas bertekanan tinggi (sistim steaming), proses pelayuan ini bertujuan untuk mematikan aktivitas enzim sehingga akan menghambat timbulnya proses fermentasi.
Menurunkan kadar air menjadi sekitar 60 – 70 %.

2. Proses Pendinginan

Bertujuan untuk mendinginkan daun setelah melalui proses pelayuan.

3. Proses Penggulungan daun

Menggunakan mesin Jackson, bertujuan untuk memecah sel-sel daun sehingga teh yang dihasilkan akan mempunyai rasa yang lebih sepet. Proses ini hampir sama dengan proses penggilingan pada proses pembuatan teh hitam, tetapi untuk proses pembuatan teh hijau daun yang dihasilkan sedapat mungkin tidak remuk / hanya tergulung, dan mempunyai rasa yang lebih sepet. Proses penggulungan berkisar antara 15 – 30 menit.

4. Proses Pengeringan

Proses pengeringan yang pertama dilakukan adalah dengan menggunakan ECP drier, kemudian setelah itu langsung dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan rotary drier. Proses pengeringan pertama akan menurunkan kadar air menjadi 30 – 35 %, dan akanmemperpekat cairan sel. Proses ini dlakukan pada suhu sekitar 110° – 135° C selama ± 30 menit. Proses pengeringan kedua akan memperbaiki bentuk gulungan daun, suhu yang dipergunakan berkisar antara 70° – 95° C dengan waktu sekitar 60 – 90 menit. Produk teh hijau yang dihasilkan mempunyai kadar air 4 – 6 %.

5. Proses sortasi

Proses ini bertujuan untuk mendapatkan teh hijau dengan berbagai kualitas mutu :
a. Peko (daun pucuk).
b. Jikeng (daun bawah / tua).
c. bubuk / kempring (remukan daun).
d. tulang

Sumber : buku pengolahan bahan pangan segar, harian pikiran rakyat, sinar harapan, situs wikipedia, republika, kompas

sumber: blog rinrin jamrianti

Teh Celup Memicu Kanker..?

•February 13, 2007 • 1 Comment

Di zaman instan dan serba praktis ini, banyak orang lebih menyukai teh celup ketimbang teh tubruk yang memerlukan waktu lebih lama untuk menyeduhnya. Namun, apakah teh celup cukup aman? Benarkah pada kantongnya terkandung bahan kimia klorin dan formalin yang memicu kanker?

Menyeruput teh nasgithel (panas, legi atau manis, dan kenthel atau kental) di musim hujan seperti sekarang memang terasa nikmat. Kebiasaan itu sudah lama dilakukan Rima. “Teh itu menyegarkan,” begitu alasannya. Namun, belakangan ia mendapat informasi bahwa teh celup kegemarannya mengandung senyawa kimia klorin. Tentu saja ia khawatir karena klorin yang kerap digunakan untuk memutihkan kertas itu tidak ramah lingkungan, terlebih bagi manusia. Belum reda masalah klorin didiskusikan di internet, timbul isu tentang formaldehyde alias formalin yang disinyalir membuat kantong teh menjadi kuat. Itu sebabnya saat teh celup diseduh, kantongnya tidak akan robek.

Belum Diteliti

Mengenai ada tidaknya kandungan klorin ataupun formaldehyde pada kantong teh celup memang belum diketahui secara pasti. Salah satu perusahaan besar di Indonesia yang memproduksi teh celup merek terkenal, tidak mau memberi jawaban saat dihubungi SENIOR sehubungan dengan jenis bahan yang digunakan.
Beberapa peneliti juga menyatakan tidak dapat memberi jawaban pasti mengenai persisnya kandungan apa saja yang terdapat pada kantong teh celup.

Mengingat orang Indonesia termasuk sangat gemar minum teh, produsen teh celup di Tanah Air juga tidak sedikit, sebenarnya cukup mengherankan jika informasi tentang itu tidak mudah diperoleh. Menurut Bambang Wispriyono, Apt. Ph.D, dosen Toksikologi Lingkungan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, kondisi itu terjadi mungkin karena tidak ada keluhan dari masyarakat yang mengonsumsinya. Suatu penelitian biasanya baru akan dilakukan bila diduga terdapat kandungan yang berisiko besar terhadap kesehatan.

Jadi tidak aneh bila sampai saat ini belum ada penelitian sehubungan dengan penggunaan bahan untuk kantong teh celup. “Sejauh pengamatan saya, penelitian kantong teh celup rasanya belum pernah dilakukan di Indonesia,” ujar doktor lulusan University of Occupational and Environmental Health di Kitakyushu, Jepang ini.

Di luar negeri, penelitian mengenai bahan yang digunakan untuk teh celup ini pun belum sampai pada hasil akhir. Hal ini bukan karena konsumsi teh di luar negeri lebih sedikit daripada Indonesia. Kalau mau membandingkan, Indonesia masih kalah jauh dari negara seperti Jepang dan Inggris untuk urusan minum teh.

Di dua negara tersebut, teh sudah menjadi budaya. Bahkan di Jepang ada upacara minum teh. Hanya saja, yang digunakan bukan teh celup, melainkan loose tea atau teh yang belum diberi kantong.

Pemutih Kertas

Menilik kantong teh celup, Bambang memperkirakan bahwa kertas termasuk dalam bahan tersebut. “Saya nggak tahu jelas. Tapi, sepertinya komponen utamanya adalah kertas karena ada seratnya,” katanya seraya memperlihatkan serat yang muncul dan robekan kantong tersebut.
Kertas merupakan selulosa yang mengandung polisakarida. Bagi manusia, unsur ini tidak membahayakan. Bahan tambahanlah, misalnya zat kimia, yang dapat membuatnya menjadi berbahaya.

“Saya rasa belum ada penelitian toksikologi tentang teh celup. Walau ada dampaknya. kandungan bahan kimianya kecil. Masih di bawah ambang batas,” tuturnya.

Kalau kantong teh tersebut benar mengandung klorin, dalam jumlah cukup besar akan menimbulkan bau yang menyengat. “Bau klor sangat khas, seperti bau air kolam renang. Itu dalam kadar yang tinggi, tapi untuk kantong teh seperti ini sulit untuk dideteksi karena tidak tercium,” ujarnya.

Klorin ini dapat menyebabkan terjadinya keluhan, mulai dari pusing, mual, sampai gangguan sistem saraf. Hanya saja, kalau kandungannya kecil, efeknya tidak terlihat jelas. “Yang diwaspadai bukan dampak akutnya, tapi akumulasi kronik. Jangka panjang, kalau menggunakan dalam kadar lebih dari ambang batas bisa saja timbul kanker,” katanya mewanti-wanti.

Pada proses pembuatan kertas, klorin memang digunakan untuk memutihkan, ’Tapi, kalau untuk pembuatan kantong ini, sulit dideteksi. Diperlukan pemeriksaan senyawa organik klorin dan yang lainnya”

Selain klorin, dalam pembuatan kertas juga dipakai bahan kimia formalin yang berdampak buruk bagi manusia. Untuk jangka pendek bisa mengganggu kesehatan liver dan ginjal. Dalam jangka panjang bisa memicu timbulnya kanker atau bersifat karsinogenik.

Namun, secara keseluruhan, Bambang tidak bisa memperkirakan secara pasti. Sebab, kantong teh celup sudah dalam bentuk campuran.”Sayangnya selama ini tidak ada komposisi mengenal kantong teh celup pada kemasan. Bahan kertas yang digunakan itu mengandung apa, tidak disebutkan. Sebenarnya itu harus ada, sehingga konsumen tidak merasa dibohongi,” papar Bambang, yang melakukan post doctoral di Wayne State University, Amerika Serikat, untuk bidang experimental cancer research ini.

Cantumkan Lengkap

Untuk urusan keterangan lengkap pada kemasan, Indonesia memang ketinggalan banyak. Konsumen sepertinya selalu terabaikan. Bambang lantas menyarankan para produsen agar mencantumkan bahan baku kantong pada label kemasan.
Tidak hanya bahan kantong sebetulnya. Penting juga penjelasan mengenai benang serta zat warna yang digunakan pada merek yang menjadi pegangan kantong. Kemungkinan terjadi reaksi atau pelepasan senyawa dari zat warna akibat suhu panas lalu masuk ke dalam air teh tetap bisa terjadi. Jadi risikonya tidak hanya dad kantong, tapi juga bahan lainnya.

Menjadi berbahaya bila mengandung bahan yang tidak bisa ditolerir. Artinya meski digunakan dalam jumlah kecil tetap berisiko menimbulkan toksis (racun). Pemakalan zat warna tekstil sebagai contoh. “Itu tidak boleh. Kalau ada zat warna dari benang terlepas, bisa menimbulkan kanker dalam waktu lama. Itu sebabnya badan POM harus ketat dalam kemasan label. Dan harus jelas tertulis tidak mengandung senyawa aditif yang berbahaya,” sarannya lagi.

Sebenarnya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (B-POM) menurutnya sudah punya standar untuk bahan kemasan bagi makanan. Ada kriteria tersendiri untuk bahan atau kemasan yang berkontak langsung dengan makanan atau minuman. Jenis kertas atau bahan yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku.

“Mesti terdaftar di POM, jadi harus punya nomor registrasinya. Bila terjadi sesuatu, tanggung jawab ada di POM karena mereka tidak memeriksa secara rutin,” lanjutnya. Sayangnya, B-POM tidak bisa dihubungi ketika SENIOR mencoba mengonfirmasi hal tersebut.

sumber: senior