Budaya minum teh

Jakarta: Budaya minum teh sangat populer di masyarakat Cina, Jepang, dan Inggris. Belakangan, masyarakat Jakarta pun mulai menikmati teh melalui ritual sebuah jamuan sebagai gaya hidup baru. Di antaranya adalah jamuan kungfu tea yang hanya berlangsung sekitar 15 menit untuk 2 hingga 3 orang saja. Seperti namanya, menurut penikmat teh bernama Lily di Jakarta, baru-baru ini, jamuan kungfu tea berasal dari Cina. Jamuan ini biasa digelar untuk perayaan kebahagiaan. Sementara teh yang dipakai lazimnya adalah teh Kuan Im dari jenis black tea.

Minum teh pun kini biasa dilakukan di sebuah lounge atau kafe. Sementara rasa dan penyajiannya pun kian menarik. Untuk memancing minat masyarakat, sajian teh dikembangkan mengikuti selera pasar, seperti cocktail tea atau teh herbal yang rasanya lebih segar. Untuk pasar anak muda, pengelola sebuah tea lounge Imam Rachmadi mengatakan, pihaknya menyediakan teh khusus. Yaitu, black currant tea yang dicampur dengan soda, dan es serut. Teh ini juga disajikan dalam gelas besar sehingga lebih menarik. “Diharapkan, setelah mencicipi black currant tea kaum muda juga tertarik mencoba jenis teh lainnya,” kata Imam. Black currant tea juga bisa dijadikan bumbu makanan pasta khas Italia, seperti spaghetti.

Sebagian orang juga mengkonsumsi teh dengan tujuan kesehatan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, senyawa katekin yang terdapat dalam daun teh dapat mencegah munculnya beberapa jenis kanker. Pasalnya, katekin bersifat antimutagen. Sedangkan senyawa polyfenol dalam teh dapat menetralisasi zat yang karsinogenis [bersifat memicu kanker]. Mengkonsumsi teh secara teratur juga bisa mengurangi penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, dan menyusutkan berat badan. Kelebihan berat badan dan kegemukan terjadi karena masukan energi lebih besar dari yang digunakan. Nah, polyfenol teh akan menghambat penyerapan vitamin B-1. Hal itu akan mengurangi metabolisme gula darah yang selanjutnya berpengaruh pada pengurangan berat badan.

Meminum teh juga bisa membangkitkan rasa segar. Senyawa teh yang berjasa mengantarkan rasa segar di antaranya adalah kafein. Kafein teh berbeda dengan kafein dalam kopi. Meski kadar kafein dalam teh lebih tinggi 1-5 persen, efek sampingnya tidak seburuk kafein pada kopi. Kafein dalam kopi diserap di lambung sehingga resorpsi–penyerapan ulang–ke dalam aliran darah menjadi cepat. Sedangkan kafein dalam teh diserap di usus, sehingga resorpsi ke dalam aliran darah melalui proses yang sangat kompleks dan lambat. Itulah sebabnya, bagi mereka yang pencernaannya sensitif, disarankan mendapatkan kafein dari teh ketimbang dari kopi. Sebab, pencernaan yang peka lebih toleran terhadap kafein teh.

Kesegaran yang ditimbulkan teh mencapai puncaknya setelah 40 menit meminum. Kesegaran akan lenyap 30 menit kemudian. Karena itu, untuk mempertahankan kesegaran tubuh sebaiknya teh diminum secara bertahap. Misalnya, setiap setengah atau satu jam, minumlah 4-5 teguk. Jadi, teh tidak diludeskan dalam sekali tenggak.

Efek psikis kafein teh terutama disebabkan daya stimulasinya terhadap susunan saraf pusat. Meminum teh lima gram dapat memacu dan memperbaiki tingkat kesadaran dan kerja intelektual otak. Di antaranya menghitung, menghapal, membaca, dan daya pembedaan. Selain itu, minum teh juga membuat daya asosiasi otak menjadi lebih jelas dan plastis. Hasil penelitian menunjukkan, minum teh secara teratur dapat mendorong prestasi sampai optimal, sekaligus memperbaiki kualitas hasil kerja. Hal itu tercermin pada berkurangnya frekuensi membuat kesalahan dalam pekerjaan yang memerlukan konsentrasi penuh. Kendati demikian, perlu diingat bahwa minum teh bukanlah terapi suatu penyakit. Efek kesehatan dari teh hanya bersifat preventif. Itu pun hanya bermakna jika teh diminum secara teratur dengan cara yang tepat.

Sejauh ini, ada tiga jenis produk teh yang dikenal. Selain teh hitam atau black tea, ada pula teh oolong, dan teh hijau. Ketiganya dibedakan dari cara pengolahannya. Teh hitam diolah dengan cara fermentasi penuh. Warna seduhannya merah agak pekat. Sedangkan teh hijau diolah tanpa proses fermentasi dan warna seduhannya kuning hijau dengan rasa lebih sepet. Sementara teh oolong yang dikenal sebagai teh gunung atau teh wangi, diolah dengan cara setengah fermentasi. Rasanya pun gabungan dari teh hijau dan teh hitam. Cara pengolahan ini berpengaruh terhadap kandungan senyawa dalam jenis teh. Senyawa-senyawa yang masih tersisa dalam seduhan, akan mengoptimalkan daya kerja teh menyegarkan dan menyehatkan tubuh si peminum.

Sejarah teh sendiri berawal dari kebudayaan Cina kuno. Berdasarkan mitos, teh diyakini pertama kali ditemukan oleh Kaisar Cina Shen Nung secara tak sengaja pada 2737 Sebelum Masehi. Kaisar ini dikenal sebagai seniman dan ilmuwan–saat itu, sebelum kuman dan virus ditemukan, ia sudah mengetahui bahwa air minum harus dimasak dulu agar higienis. Suatu hari di musim panas, kaisar mengunjungi sebuah daerah kerajaan yang cukup jauh. Di tengah jalan, Shen dan rombongan berhenti untuk istirahat dan memerintahkan pelayannya memasak air. Tiba-tiba, daun-daun kering dari semak belukar terbang dan jatuh ke dalam panci rebusan air. Akibatnya, warna air pun berubah menjadi kecoklatan. Lantas, Shen meminum cairan baru tersebut dan tubuhnya pun merasa segar.

Berdasarkan catatan sejarah, pada 800 Masehi konsumsi teh sudah menyebar di semua lapisan masyarakat Cina. Pada era itu, Lu Yu menulis buku pertama tentang teh berjudul “Ch`a Ching”. Dia juga mengembangkan sejumlah metode pengolahan teh semasa hidupnya. Teh olahan Lu Yu pun kemudian menjadi langganan penguasa kerajaan saat itu.

Kemudian, budaya minum merambah ke Jepang. Benih teh pertama kali dibawa ke Jepang oleh pendeta Budha bernama Yeisei. Maklum, dia telah membuktikan khasiat teh di Cina yang diminum saat bermeditasi. Yeisei kemudian disebut sebagai Bapak Teh di Negeri Matahari Terbit. Karena berkembang dari lingkungan kependetaan, teh pun selalu diasosiasikan dengan ajaran Zen. Kebiasaan minum teh lalu meningkat menjadi sebuah seni. Bahkan menjadi suatu upacara sakral bernama “Cha No Yu” yang berarti air panas untuk teh.

Upacara minum teh di Jepang, seperti dilukiskan jurnalis dan sejarawan keturunan Yunani-Irlandia Lafcadio Hearn, adalah suatu rangkaian prosesi yang sangat kompleks. Kendati demikian, prosesi upacara teh di Jepang sangat indah. Pada perkembangannya, para geisha menjadi spesialis dalam menyajikan teh. Namun, nilai-nilai paham Zen dalam ritual minum teh pun mulai hilang seiring dengan populernya minuman dari pucuk daun tersebut. Upacara minum teh dijadikan suatu kompetisi di kalangan para bangsawan dan hartawan. Pemenangnya dihadiahi barang-barang mewah seperti kain sutra, perhiasan, bahkan senjata. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat Zen yang mengajarkan minum teh sebagai suatu cara relaksasi dan meditasi religius. Beruntunglah, sejumlah tokoh masyarakat Jepang–di antaranya Pangeran Ikkyu yang hidup antara 1394-1481–mengembalikan kemurnian makna di balik upacara minum teh.

Saat budaya minum teh sudah berkembang pesat di Jepang dan Cina, masyarakat Eropa justru belum mengenal teh. Sejumlah pengelana asal Eropa memang pernah menyebut-nyebut daun tersebut. Namun, mereka tak pernah menjelaskan cara mengkonsumsi dan menyajikannya. Beberapa di antaranya bahkan menganjurkan untuk memasak daun teh, kemudian digarami dan diberi mentega. Setelah itu baru dimakan.

Jasper de Cruz dari Portugis adalah orang yang pertama memperkenalkan teh ke masyarakat Eropa pada 1560. Sejak saat itu, pemerintah Portugis pun membuka jalur perdagangan ke Cina untuk mendapatkan teh. Akhirnya, komoditi teh pun menyebar dari Portugis hingga ke bagian utara Eropa, seperti Prancis, dan Belanda. Pada 1650, Peter Stuyvesant dari Belanda membawa teh ke koloni belanda di New Amsterdam (yang kemudian disebut New York oleh orang Inggris), Amerika Serikat.

Anehnya, Inggris baru mengenal teh setelah warga New Amsterdam terkenal sebagai masyarakat peminum teh. Sampel teh pertama mencapai Inggris pada kurun 1652 and 1654. Namun, teh dengan cepat menjadi minuman yang sangat populer sehingga menggantikan ale–semacam bir–sebagai minuman nasional Inggris. Bahkan, hingga kini Inggris dikenal sebagai bangsa berbudaya minum teh.

sumber: Liputan6.com
 

~ by femi adi soempeno on February 21, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: