Teh Celup Memicu Kanker..?

Di zaman instan dan serba praktis ini, banyak orang lebih menyukai teh celup ketimbang teh tubruk yang memerlukan waktu lebih lama untuk menyeduhnya. Namun, apakah teh celup cukup aman? Benarkah pada kantongnya terkandung bahan kimia klorin dan formalin yang memicu kanker?

Menyeruput teh nasgithel (panas, legi atau manis, dan kenthel atau kental) di musim hujan seperti sekarang memang terasa nikmat. Kebiasaan itu sudah lama dilakukan Rima. “Teh itu menyegarkan,” begitu alasannya. Namun, belakangan ia mendapat informasi bahwa teh celup kegemarannya mengandung senyawa kimia klorin. Tentu saja ia khawatir karena klorin yang kerap digunakan untuk memutihkan kertas itu tidak ramah lingkungan, terlebih bagi manusia. Belum reda masalah klorin didiskusikan di internet, timbul isu tentang formaldehyde alias formalin yang disinyalir membuat kantong teh menjadi kuat. Itu sebabnya saat teh celup diseduh, kantongnya tidak akan robek.

Belum Diteliti

Mengenai ada tidaknya kandungan klorin ataupun formaldehyde pada kantong teh celup memang belum diketahui secara pasti. Salah satu perusahaan besar di Indonesia yang memproduksi teh celup merek terkenal, tidak mau memberi jawaban saat dihubungi SENIOR sehubungan dengan jenis bahan yang digunakan.
Beberapa peneliti juga menyatakan tidak dapat memberi jawaban pasti mengenai persisnya kandungan apa saja yang terdapat pada kantong teh celup.

Mengingat orang Indonesia termasuk sangat gemar minum teh, produsen teh celup di Tanah Air juga tidak sedikit, sebenarnya cukup mengherankan jika informasi tentang itu tidak mudah diperoleh. Menurut Bambang Wispriyono, Apt. Ph.D, dosen Toksikologi Lingkungan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, kondisi itu terjadi mungkin karena tidak ada keluhan dari masyarakat yang mengonsumsinya. Suatu penelitian biasanya baru akan dilakukan bila diduga terdapat kandungan yang berisiko besar terhadap kesehatan.

Jadi tidak aneh bila sampai saat ini belum ada penelitian sehubungan dengan penggunaan bahan untuk kantong teh celup. “Sejauh pengamatan saya, penelitian kantong teh celup rasanya belum pernah dilakukan di Indonesia,” ujar doktor lulusan University of Occupational and Environmental Health di Kitakyushu, Jepang ini.

Di luar negeri, penelitian mengenai bahan yang digunakan untuk teh celup ini pun belum sampai pada hasil akhir. Hal ini bukan karena konsumsi teh di luar negeri lebih sedikit daripada Indonesia. Kalau mau membandingkan, Indonesia masih kalah jauh dari negara seperti Jepang dan Inggris untuk urusan minum teh.

Di dua negara tersebut, teh sudah menjadi budaya. Bahkan di Jepang ada upacara minum teh. Hanya saja, yang digunakan bukan teh celup, melainkan loose tea atau teh yang belum diberi kantong.

Pemutih Kertas

Menilik kantong teh celup, Bambang memperkirakan bahwa kertas termasuk dalam bahan tersebut. “Saya nggak tahu jelas. Tapi, sepertinya komponen utamanya adalah kertas karena ada seratnya,” katanya seraya memperlihatkan serat yang muncul dan robekan kantong tersebut.
Kertas merupakan selulosa yang mengandung polisakarida. Bagi manusia, unsur ini tidak membahayakan. Bahan tambahanlah, misalnya zat kimia, yang dapat membuatnya menjadi berbahaya.

“Saya rasa belum ada penelitian toksikologi tentang teh celup. Walau ada dampaknya. kandungan bahan kimianya kecil. Masih di bawah ambang batas,” tuturnya.

Kalau kantong teh tersebut benar mengandung klorin, dalam jumlah cukup besar akan menimbulkan bau yang menyengat. “Bau klor sangat khas, seperti bau air kolam renang. Itu dalam kadar yang tinggi, tapi untuk kantong teh seperti ini sulit untuk dideteksi karena tidak tercium,” ujarnya.

Klorin ini dapat menyebabkan terjadinya keluhan, mulai dari pusing, mual, sampai gangguan sistem saraf. Hanya saja, kalau kandungannya kecil, efeknya tidak terlihat jelas. “Yang diwaspadai bukan dampak akutnya, tapi akumulasi kronik. Jangka panjang, kalau menggunakan dalam kadar lebih dari ambang batas bisa saja timbul kanker,” katanya mewanti-wanti.

Pada proses pembuatan kertas, klorin memang digunakan untuk memutihkan, ’Tapi, kalau untuk pembuatan kantong ini, sulit dideteksi. Diperlukan pemeriksaan senyawa organik klorin dan yang lainnya”

Selain klorin, dalam pembuatan kertas juga dipakai bahan kimia formalin yang berdampak buruk bagi manusia. Untuk jangka pendek bisa mengganggu kesehatan liver dan ginjal. Dalam jangka panjang bisa memicu timbulnya kanker atau bersifat karsinogenik.

Namun, secara keseluruhan, Bambang tidak bisa memperkirakan secara pasti. Sebab, kantong teh celup sudah dalam bentuk campuran.”Sayangnya selama ini tidak ada komposisi mengenal kantong teh celup pada kemasan. Bahan kertas yang digunakan itu mengandung apa, tidak disebutkan. Sebenarnya itu harus ada, sehingga konsumen tidak merasa dibohongi,” papar Bambang, yang melakukan post doctoral di Wayne State University, Amerika Serikat, untuk bidang experimental cancer research ini.

Cantumkan Lengkap

Untuk urusan keterangan lengkap pada kemasan, Indonesia memang ketinggalan banyak. Konsumen sepertinya selalu terabaikan. Bambang lantas menyarankan para produsen agar mencantumkan bahan baku kantong pada label kemasan.
Tidak hanya bahan kantong sebetulnya. Penting juga penjelasan mengenai benang serta zat warna yang digunakan pada merek yang menjadi pegangan kantong. Kemungkinan terjadi reaksi atau pelepasan senyawa dari zat warna akibat suhu panas lalu masuk ke dalam air teh tetap bisa terjadi. Jadi risikonya tidak hanya dad kantong, tapi juga bahan lainnya.

Menjadi berbahaya bila mengandung bahan yang tidak bisa ditolerir. Artinya meski digunakan dalam jumlah kecil tetap berisiko menimbulkan toksis (racun). Pemakalan zat warna tekstil sebagai contoh. “Itu tidak boleh. Kalau ada zat warna dari benang terlepas, bisa menimbulkan kanker dalam waktu lama. Itu sebabnya badan POM harus ketat dalam kemasan label. Dan harus jelas tertulis tidak mengandung senyawa aditif yang berbahaya,” sarannya lagi.

Sebenarnya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (B-POM) menurutnya sudah punya standar untuk bahan kemasan bagi makanan. Ada kriteria tersendiri untuk bahan atau kemasan yang berkontak langsung dengan makanan atau minuman. Jenis kertas atau bahan yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku.

“Mesti terdaftar di POM, jadi harus punya nomor registrasinya. Bila terjadi sesuatu, tanggung jawab ada di POM karena mereka tidak memeriksa secara rutin,” lanjutnya. Sayangnya, B-POM tidak bisa dihubungi ketika SENIOR mencoba mengonfirmasi hal tersebut.

sumber: senior
 

~ by femi adi soempeno on February 13, 2007.

One Response to “Teh Celup Memicu Kanker..?”

  1. Sedikit Informasi,
    Tidak dapat dipungkiri bahwa beredar issue mengenai dipakainya klorin pada proses pemutihan kertas teh celup.
    Setahu saya, untuk persusahaan teh besar, tidak akan berbuat bodoh dengan menggunakan bahan2 yang berbahaya untuk konsumen. Mereka mengimport dari perusahaan2 besar di Eropa seperti : Cromton Papper (England), Schoeler (Germany) dan lain2.
    Mereka adalah perusahaan kertas besar yang di negaranya juga sangat ketat mengenai standart kesehatan, dan semua produk mereka sudah ada sertifikat bebas klorin.
    Jadi jika kita berpikiran minum teh celup memicu kanker, kita telat kali ya. Jika memang benar, teh celup kaga bakal masuk Indonesia, karena orang2 bule disana udah pada protes duluan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: