Teh Hijau Cegah Disfungsi Ereksi?

KEMAMPUAN ereksi sering kali dijadikan ukuran kejantanan kaum pria. Terjadinya disfungsi (gangguan) ereksi (DE) bukan saja membuat kaum pria resah, tapi juga bisa stres dan kehilangan kepercayaan diri. Tidaklah mengherankan jika berbagai upaya dilakukan demi tetap terjaganya “kesinambungan” ereksi, meski untuk itu dibutuhkan biaya besar.

Disfungsi ereksi (DE) alias gangguan keperkasaan pada pria–orang lebih familiar menyebutnya impotensi–adalah ketakmampuan alat vital mencapai ereksi atau mempertahankannya untuk berhubungan seks yang memuaskan. Jika dilihat dari jangka waktu, sebuah gangguan disebut DE jika setidaknya telah berlangsung tiga bulan. Kekerapan DE untuk pria berumur 40 tahun dialami 5 persen, sedangkan pria berusia 70-an tahun mencapai 15 persen. Khusus di Indonesia, kasus DE dialami sekira 10 persen pria menikah.

Ereksi biasanya berawal dari rangsangan seksual, enzim neuronal nitric oxide (NO), dilepaskan pada ujung syaraf. DE disebabkan gangguan organik dan gangguan psikogenik, atau dua-duanya. Kendati DE sejauh ini dinyatakan bukan kondisi berbahaya bagi kesehatan, namun nyatanya dapat memengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari, interaksi sosial, rasa sehat, serta kualitas hidup seseorang, terutama perasaan kurang percaya diri atau minder.

Namun, bagi para penggemar teh, khususnya teh hijau, sepertinya ada kabar gembira berkaitan dengan gangguan DE. Sebuah penelitian yang dilakukan Dr. H. Arifin Gunawijaya, M.S., staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Trisaksi Jakarta, memperlihatkan adanya khasiat teh dalam membantu menyembuhkan DE.

Arifin yang mengambil jenjang pendidikan S-2 di Universitas Indonesia, melakukan penelitian mengenai sisi positif teh hijau sejak tahun 1988. Ia menemukan zat dalam bentuk polifenol pada teh hijau yang mampu meningkatkan kemampuan ereksi. Zat tersebut mampu merangsang fungsi endotel pada tubuh pria sehingga menambah kemampuan ereksi.

Menurut Arifin, antioksidan yang terdapat pada polifenol teh hijau, dapat menetralkan, mengurangi bahkan membantu mencegah kerusakan akibat radikal bebas. Polifenol teh mempunyai efek antioksidan lebih besar dari vitamin C (100 kali) dan 25 kali dari vitamin E. “Teh hijau mengandung 30-40 persen polifenol, sedangkan teh hitam hanya 3-10 persen polifenol. Secangkir teh hijau mengandung 50-150 mg polifenol, dengan decaifeinated 60-69 persen polifenol total,” kata Arifin. Teh hijau macam apa yang berkhasiat demikian?

Menurut Arifin, sejauh ini secara umum semua jenis teh hijau memiliki khasiat yang sama. Konsumsinya mulai dalam bentuk setengah jadi dari pabrik, teh celup, sampai teh siap minum dalam kemasan botol dan kotak yang saat ini banyak beredar di pasaran. Namun demikian, pemakaian teh hijau untuk anak-anak belum ada penelitian. Sedangkan untuk dewasa dapat diperoleh melalui tiga cangkir teh hijau per hari (3 gram teh, 240-320 gram polifenol atau 300-400 gram miligram ekstrak teh hijau/hari. Lain halnya untuk wanita hamil dan menyusui sebaiknya menghindari minum teh hijau.

Manfaat lainnya dari polifenol dalam teh hijau, tambah Arifin, adalah mampu menurunkan kolesterol tinggi, yang juga menjadi salah satu penyebab gangguan ereksi. Selain itu, mampu membuat seseorang tak cepat lapar, yang menjadi salah satu perangsang aktivitas.

Namun perlu diingat, kafein dalam teh dan kopi dapat membuat orang gelisah, susah tidur, jantung berdebar, dan pusing. Jika berlebihan, bisa kram perut, mual, muntah, sakit kepala, dan nafsu makan hilang. Jika ada gejala ini, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan.

Tingkatkan promosi

Hanya, manfaat mengonsumsi teh hijau masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Ini tak terlepas dari perbedaan kultur konsumen di negara kita yang lebih banyak menyukai teh berkualitas ala kadarnya berharga murah, atau jenis dari teh hitam.

Padahal di berbagai negara lain, misalnya Malaysia, India, Jepang, dan Cina, produk teh hijau sudah sejak lama dikenal para konsumen negaranya. “Tak heran, manfaat dari teh hijau bagi kesehatan pun lebih mudah diketahui konsumen di negara-negara bersangkutan. Kampanye penggunaan teh hijau bagi kesehatan, juga sebagai salah satu cara efektif yang dilakukan di banyak negara yang berorientasi kembali ke alam,” ujarnya.

Keterangan serupa dilontarkan pengurus Pokja Pusat Pengembangan Komoditas Teh Jabar, Imron Rosyadi. Disebutkan, sejauh ini pun masih banyak kekurangtahuan konsumen umum atas sejauh mana kualitas teh hijau yang bagus atau tidak. Menurut dia, banyak konsumen yang menyangka, teh hijau yang baik adalah yang berwarna kecokelat-cokelatan. Ini tak terlepas dari kultur konsumen lokal atas masih tingginya selera atas teh hitam dan teh berkualitas seadanya.

Tak heran, selera dan kualitas teh di Indonesia masih sering disamaratakan dan dinilai tak berbeda jauh, termasuk dalam urusan khasiatnya. Bahkan, pabrikan dalam mengolah tehnya banyak yang ikut-ikutan membuat produknya agak kecokelat-cokelatan dengan harapan lebih diterima selera konsumen pasar lokal.

“Teh hijau berkualitas bagus secara kasat mata sudah jelas, yaitu berwarna hijau bening. Standar kualitas ini sifatnya menyeluruh, baik produk lokal maupun impor, berikut pula dengan berbagai jenisnya,” ujar Imron.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo), Nana Subarna, mengatakan, ada situasi yang juga memengaruhi secara psikis dan kultur mengapa selera atas teh hijau belum sebesar teh hijau. Ini terkesan konyol, namun nyatanya memengaruhi daya serap dan konsumsi teh hijau secara umum di Indonesia.

Semakin banyaknya masyarakat yang mengetahui khasiat teh hijau bagi kesehatan, diharapkan pula berdampak positif bagi perekonomian masyarakat daerahnya sendiri. Apalagi, produk teh hijau selama ini mayoritas diproduksi para petani teh di Jabar, walau belakangan industri besar pun tertarik memproduksi dalam bentuk kemasan.

Hanya, menurut Nana, ini pun harus disertai upaya mengubah kultur awam dan tingkat apresiasi terhadap produk teh. Langkah meningkatkan gengsi teh hijau, bukan sekadar urusan bisnis, namun juga upaya sosialisasi tentang manfaat teh bagi konsumen. Salah satu upaya promosi itu dalam bentuk Festival Teh Indonesia 2006, yang akan digelar di Ciwalk Bandung, 8-10 Desember.

Menurut Nana, dalam festival tersebut akan dibahas dan didiiskusikan mengenai seberapa jauh khasiat teh hijau bagi kesehatan. “Masih banyak orang awam beranggapan, minum teh yang kurang pekat dan berwarna hijau bening, dianggap teh murahan dan yang menyuguhkan dianggap pelit. Padahal, yang disuguhkan adalah teh berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan,” katanya.

suamber: pikiran rakyat

~ by femi adi soempeno on February 5, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: