Tentang Teh

Pertanyaan salah seorang sahabat saya di emailnya hari ini menggelitik rasa ingin tahu saya: mengapa saya menyukai teh? Karena di setiap cerita dan tulisan saya selalu saya tulis, saat saya kehilangan energi saya selalu minum teh. Apakah teh memang bisa menambah energi?

Saya jawab bahwa saya memang peminum teh sejak kecil. Kalau ternyata itu sekarang sering saya perlukan untuk menambah energi saya, saya rasa itu hanya sugesti saja. Saya tidak minum kopi karena jantung saya tidak kuat: berdebar keras. Lagipula saya tidak suka rasanya dan merasa kopi tidak terlalu sehat dibandingkan teh. Dari beberapa tulisan tentang teh yang saya baca, teh memang lebih baik dibandingkan kopi, walaupun kandungan koffein dalam teh sama banyak dengan kandungan koffein dalam kopi. Namun, teh tidak merusak ginjal, hati dan jantung, bahkan teh bisa memperkuat gigi. Untuk saya teh pun bisa membantu agar saya bisa tidur nyenyak.

Saya minum teh hangat saat akan tidur. Pagi hari setelah bangun tidur, saya minum sebotol air putih kemudian sarapan dengan minum dua gelas teh panas, agar saya benar-benar bangun dan tubuh menjadi segar. Untuk saya, aroma teh yang wangi itu bisa menyegarkan tubuh dan membuat saya bangun.

Selain itu, yang membuat sugesti tubuh jadi segar dan berenergi kembali dari minum teh, adalah mungkin dari cara saya menikmatinya: saya usap-usap dulu cangkirnya, pinggirannya, saya rasakan dulu hangatnya. Kemudian cangkir itu saya angkat pelahan dan saya cium dahulu aromanya. Saya rasakan uap panas itu masuk ke hidung, setelah itu saya seruput sedikit demi sedikit. Saya biarkan rasa sepat agak pahit yang hangat itu menjalar pelan masuk melalui rongga mulut ke kerongkongan dan perut saya. Kehangatan yang menjalar pelan ke seluruh tubuh itu yang benar-benar nikmat. Saya bisa merasakan hangatnya sampai ujung jari-jari saya. Bahkan sekarang pun, saat saya sedang menulis ini, sudah bisa saya rasakan hangat dan aroma wanginya!

Saya minum teh apapun: hitam, hijau, Früchtetee, Kamillentee, Pfeferminztee, dll. Namun, yang paling saya sukai adalah teh hitam, terutama jenis Darjeeling yang dimasak 3 menit saja, tidak kurang tidak lebih. Dia harus cukup kental dan pekat. Bisa juga ditambah gula, sedikit saja jangan terlalu manis, karena nantinya akan merusak rasa teh tersebut. Dia tidak akan menjadi teh lagi, melainkan air gula saja. Saya memang sudah mencandu teh, tapi saya rasa tidak apa-apa, karena tidak susah dan tidak membuat susah.

Kata “teh” atau “Tee” atau “Tea” berasal dari bahasa Cina Selatan te dari bentukan tschha [lat. Camellia sinensis]. Tumbuhan ini berasal dari Provinsi Assam India dan Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Pohonnya berbentuk semak yang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Daunnya mengandung Alkaloid Koffein yang membawa pengaruh menyegarkan dan menenangkan. Bukti tertulis tentang teh pertama kali ditemukan di Cina pada abad ke 3 sebelum masehi. Teh dibawa ke Eropa baru pada tahun 1610 oleh perusahaan dagang Asia Timur milik Belanda dan Inggris. Teh menjadi kultur tersendiri bagi negara-negara di Asia seperti Cina, Jepang, India, Srilanka, Afrika Timur, Rusia dan Indonesia. Seperti anggur di negara-negara Eropa, teh menjadi tradisi di negara-negara Asia Timur, Barat, Selatan dan Tenggara. Teh pun kemudian menjadi minuman nasional di Inggris dan Irlandia.

Nama botani tanaman teh sendiri mengalami beberapa kali perubahan. Carl von Linné pada tahun 1753 awalnya menamai tumbuhan ini Thea sinensis, tapi kemudian ia memberikan dua jenis nama yang berbeda yaitu Thea bohea dan Thea viridis. Nama botani yang sebenarnya dari tumbuhan ini adalah Camellia sinensis, dan memiliki dua jenis yaitu: Camellia sinensis var. Sinensis (teh Cina) dan Camellia sinensis var. Assamica (teh Assam).

Tumbuhan teh Assam berbentuk bulat dengan tinggi pohonnya yang bisa mencapai tinggi 15 meter. Tumbuhan ini tidak bisa tumbuh di daerah bertemperatur rendah dan memerlukan kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan yang banyak. Berlainan dengan teh Cina yang tinggi semaknya hanya mencapai 4 meter dan memerlukan suhu udara yang cukup dingin, periode musim kering yang cukup panjang serta kelembaban udara yang rendah. Jenis-jenis teh yang dikenal saat ini merupakan hasil penyilangan dari kedua jenis teh ini.

Untuk memudahkan pemetikan pucuk daunnya, pohon teh ini dipotong rendah. Daun-daun teh ini berbentuk sedikit oval, selalu berwarna hijau dan agak berkulit serta memiliki panjang antara 4 sampai 10 cm. Bunganya berwarna putih sebesar 3 cm berasal dari pucuk daunnya dan berbentuk lonjong seperti kapsul dan di dalamnya berisi sampai 3 bijih benih. Tanaman ini memerlukan iklim sedang dengan temperatur antara 18 sampai 28 derajat celcius dengan curah hujan yang teratur sekitar 2000 mm. Untuk hasil yang baik, sebaiknya tanaman ini tumbuh di tanah berketinggian antara 500 sampai 2000 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dikembangbiakkan dengan cara penyetekan batang setinggi sekitar 1 m.

Perkebunan teh paling banyak ditemui di India, Cina dan Srilanka. Tahun 1999, panen teh dunia dihasilkan di India (sekitar 30%), Cina (23,5%), Srilanka (9,5%), Kenya (7,5%), Indonesia (5%) dan Turki (4%). 75 % dari hasil panen teh ini dibuat menjadi teh hitam (teh yang difermentasi), 25%-nya menjadi teh hijau (teh tanpa fermentasi) dan sisanya menjadi teh Oolong (teh yang setengah difermentasi). Jenis teh hijau awalnya dikembangkan untuk keperluan sendiri di Cina, Jepang dan Indonesia, kemudian dieksport ke negara-negara Islam. Sejak beberapa tahun yang lalu, jenis teh ini digemari pula di Eropa.

Daun teh yang dipetik dengan tangan saat panen umumnya pucuk-pucuk daun teh muda dan dua daun berikutnya. Panen tidak dilakukan sekaligus, melainkan dengan interval waktu antara 10 sampai 14 hari. Daun-daun teh yang sudah dipetik tidak bisa bertahan lama dan harus segera diolah. Saat pengolahan inilah dibedakan jenis teh menjadi teh hitam dan teh hijau. Teh hitam dibuat dengan proses pelayuan, penggulungan, fermentasi, pengeringan dan penyaringan/penyortiran. Pertama-tama, daun-daun teh ini disimpan dalam keadaan kering selama 8 sampai 12 jam untuk proses pelayuan. Saat proses pelayuan ini, daun-daun tersebut akan kehilangan kandungan air sebesar 40%. Pada saat penggulungan, kerangka-kerangka daunnya akan hilang dengan bantuan silinder penggulung. Cairan sel akan muncul lewat bantuan kandungan asam di udara dan dimulailah proses fermentasi.

Proses fermentasi ini berlangsung selama 2 sampai 3 jam. Daun-daun ini kemudian disebarkan di atas meja dan dilembabkan. Kualitas teh yang akan dihasilkan kemudian tergantung pada proses fermentasi ini. Akhir dari proses fermentasi ini dikenali lewat wangi dan warna daun teh yang berubah menjadi merah perunggu. Kemudian teh ini dikeringkan dengan suhu sekitar 85 derajat celcius sampai berwarna gelap, selanjutnya disortir berdasarkan jenis daunnya. Dari proses penyortiran ini dikenal teh jenis Flowery Orange Pekoe (hanya pucuk daunnya), Orange Pekoe (pucuk dan daun teratas), Pekoe Souchong (daun kedua), Souchong (hasil dari penyortiran daun terkasar). Selanjutnya masih dikenal jenis Broken Teas yang berasal dari daun-daun teh yang pecah saat proses penggulungan, antara lain jenis Broken Orange Pekoe, juga jenis Fannings dan Dust, yang berasal dari serpihan-serpihan daun dan biasanya digunakan untuk membuat teh celup.

Jenis teh hijau dibuat dengan proses penguapan atau pemasakan, penggulungan dan pengeringan. Setelah dipetik, daun-daun teh ini diuapkan sebentar dengan uap air panas atau dimasak diatas api dengan menggunakan panci besar. Proses ini dibuat untuk menghindari fermentasi dan untuk mempertahankan warna daun.

Darjeeling adalah jenis teh hitam yang terkenal, yang namanya diambil dari nama sebuah kota di daerah Bengali Selatan (India). Perkebunan Darjeeling terletak di ketinggian 2000 m dari atas laut di sebelah selatan pegunungan Himalaya. Di daerah ini tumbuh tanaman teh terbaik dan termahal di dunia. Untuk teh jenis ini dikenal dua jenis teh lainnya, yaitu Darjeeling yang dipanen di awal tahun (first flush) dengan hasil air teh yang berwarna terang, ringan dan wangi. Jenis selanjutnya adalah Darjeeling yang dipanen pada musim panas (second flush) dengan hasil air teh yang lebih pekat dan kental.

Selanjutnya adalah jenis Assam, yang berasal dari nama sebuah provinsi di India juga dekat pegunungan Himalaya. Di daerah perbukitan di provinsi ini terdapat rangkaian perkebunan teh terbesar di dunia. Teh Assam berwarna gelap, pekat dan kental. Terdapat pula jenis Dooars yang berasal dari sebuah provinsi di India sebelah barat Assam yang menghasilkan teh jenis yang hampir sama dengan teh Assam.

Di Srilanka, perkebunan teh baru dikembangkan pada tahun 1867 setelah wabah pes kopi menyerang. Teh hitam dari Srilanka ini berasa agak pahit dan airnya berwarna keemasan. Sedangkan perkebunan teh di Indonesia kebanyakan berada di Provinsi Jawa Barat dan terbentang di dataran tinggi pegunungan di daerah Puncak, Sukabumi, Pangalengan, Ciwidey dan Subang. Air teh hitam dari Jawa ini berwarna terang dan rasanya agak manis. Namun, perkebunan teh di Indonesia juga bisa ditemui di Sumatera dan Sulawesi.

Pucuk-pucuk daun dan daun teh mengandung 1% – 5 % koffein (dulunya dikenal dengan sebutan tein), sedikit Theophyllin (alkaloid dalam daun teh, dengan nama kimia: 1,3-Dimethylxanthin, yang mengandung zat sejenis koffein. Dalam bidang kedokteran digunakan sebagai bahan untuk meringankan serangan asthma akut dan melancarkan air seni) dan Theobromin (nama kimianya: 3,7-Dimethylxanthin, yang juga berguna untuk merangsang pengeluaran air seni), minyak eter, dan 7% – 12% zat warna asam coklat (Gerbsäuren).

Dalam dua menit pertama penyeduhan, 75% koffein yang terkandung dalam teh akan terekstrasi dengan Theobromin dan Theophyllin. Pada proses selanjutnya akan terlihat proses pewarnaan air, saat zat warna asam coklat tadi bereaksi dengan koffein dan biasanya membentuk lapisan tipis di permukaan air. Gabungan koffein dan zat warna asam coklat ini akan diserap oleh tubuh dan pengaruh koffeinnya akan tetap tinggal dalam tubuh. Inilah yang membuat teh bisa membawa pengaruh menenangkan. Teh hitam mengandung fluor yang bisa mengganti mineral dan memperkuat permukaan gigi (Kariesprophylaxe)

Beberapa jenis teh sudah diolah dan ditambah dengan zat pewangi dan perasa. Earl Grey Tee, contohnya, mengandung minyak Bergamotte dan jeruk sitrus, sedangkan teh melati mengandung kelopak bunga melati.

Tumbuhan teh kemungkinan besar berasal dar Assam (India) dan Yunnan (Cina Selatan). Tulisan pertama tentang teh berasal dari buku berbahasa Cina Ben-cao sekitar tahun 2700 SM. Sekitar tahun 500 M, teh dibawa ke Jepang (bukti tertulis pertama berasal dari tahun 729 M). Sejak itu di Jepang berkembang upacara minum teh di biara-biara Zen. Ritual upacara persiapan minum teh sampai saat ini berkembang sebagai ajang latihan menuju jalan pencerahan.

Teh diperkenalkan pertama kali ke Eropa oleh pedagang-pedagang Arab. Mulai tahun 1610 kapal-kapal dagang Belanda membawa teh dari Jepang dan Cina. Tahun 1669 bangsa Inggris mendirikan East India Company dengan tujuan perdagangan teh. Di awal abad ke-19 para Teeclipper berlayar mengelilingi Afrika menuju Eropa. Saat Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, jarak perjalanan bisa diperpendek sekitar 7000 km. Mulai abad ke-17 teh dibawa lewat jalan darat dari Cina ke Eropa lewat Rusia. Teh yang dibawa oleh karavan-karavan Rusia kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan teh yang dibawa lewat laut dan sudah tersimpan di ruang lembab dan bau.

Kaum imigran Inggris membawa teh ke New England dan menjadikannya minuman yang digemari, terutama di kalangan masyarakat golongan atas, yang rutin mengadakan Tea Party. Pada tahun 1760 teh menempati posisi ketiga barang yang dieksport ke New England. Ketika Inggris menaikkan pajak teh untuk menutupi krisis keuangan yang melanda negara ini setelah perang tujuh tahun, timbul kerusuhan di Amerika sebagai koloni Inggris yang puncaknya terjadi di Boston dan dilakukan oleh orang-orang Freemason yang berpakaian seperti orang Indian Mohikan. Mereka merampok kapal-kapal East India Company yang berlabuh di pelabuhan Boston dan melemparkan 342 peti teh ke laut. Kejadian yang dalam sejarah dikenal sebagai „Boston Tea Party“ ini menjadi pemicu perang kemerdekaan Amerika pada tahun 1775-1783, di saat Amerika berusaha melepaskan diri dari Inggris.

Saat ini negara pengimport teh terbesar adalah Inggris, Jepang, Pakistan, USA dan Mesir. Jerman mengimport teh terutama dari India, Srilanka, Indonesia dan Kenya. Di Jerman sendiri pada tahun 1999 sekitar 29 liter teh diminum oleh setiap satu orang Jerman.* Bayangkan betapa banyaknya orang yang minum teh di dunia dan betapa banyaknya teh yang diminum di dunia.

Di Indonesia teh pun sudah menjadi kultur tersendiri dan memiliki sejarah panjang yang tak kalah panjangnya dengan sejarah teh di dunia. Mungkin juga sepanjang sejarah peradaban manusia.

sumber: dianekawati.wordpress.com

~ by femi adi soempeno on January 30, 2007.

3 Responses to “Tentang Teh”

  1. add me on fs:

    linux_matrix2004@yahoo.com

  2. wow..thx bgt buat infonya.. ^_^

  3. oh iya tolong add aku di FB — deringgo14yahoo.co.id
    ku lagi buat usul skripsi tentang preferensi merek teh…
    ^O^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: