Minum Teh Belum Dianggap Bergengsi

IRAK bukan negara penghasil teh, tetapi konsumsi teh di sana sangat tinggi. Pada tahun 2003, konsumsi teh di negara yang saat ini sedang dalam masa pendudukan oleh tentara Amerika Serikat tersebut mencapai 2.770 gram per kapita per tahun. Konsumsi yang tinggi ini tidak lepas dari budaya dan apresiasi masyarakatnya terhadap teh.

ORANG Irak hampir selalu menyajikan minuman teh di acara-acara makan. Biasanya pada sore hari teh disajikan bersama roti bersaus tomat dan berminyak sedikit. Namun, sekarang tidak terbayangkan bagaimana mereka bisa menikmati kebiasaannya itu karena rakyat Irak dewasa ini tengah berada dalam tindasan tentara asing.

Namun, yang jelas bagi orang Irak, teh dapat dijadikan sebagai media untuk mengakrabkan diri dengan orang lain. Mereka tidak cepat akrab atau ngobrol sebelum mengundang untuk saling mengunjungi rumah masing-masing dan menikmati secangkir teh manis panas yang disajikan tuan rumah.

Di Inggris, teh bahkan berhasil menggeser minuman nasional bangsa Inggris. Teh yang diperkenalkan di Inggris sekitar tahun 1652 itu sangat digemari Pangeran Charles II dan istrinya, Catherine de Braganza. Teh mendapat posisi sebagai minuman terhormat. Harganya sangat mahal. Dari bangsawan Inggris, kegemaran teh tersebar ke beberapa negara.

Teh yang biasa disajikan saat sarapan dan makan malam diperkenalkan oleh seorang bangsawan Inggris sebagai minuman pergaulan.

Para bangsawan mengundang teman-temannya berkunjung ke rumah mereka pada siang hari dan menyajikan teh bersama kue-kue kecil dan sandwich. Mereka menikmati teh, yang dinikmati sambil jalan-jalan di halaman rumah. Gaya hidup para bangsawan ini ditiru para keluarga Inggris.

ORANG Inggris masih menempatkan teh sebagai minuman terhormat. Biasanya jika mengundang tamu ke rumah, mereka menyajikan teh dalam poci perak dan disuguhkan langsung oleh tuan rumah ke cangkir porselen china untuk tamunya.

Kebiasaan minum teh di Inggris masih terus berlangsung hingga kini. Terlihat dari konsumsi teh Inggris yang cukup tinggi, yakni mencapai 2.260 gram per kapita per tahun.

Posisi teh sebagai produk bergengsi belum tampak di Indonesia. Padahal, negeri ini termasuk salah satu produsen teh dunia. Di Indonesia, teh justru dianggap sebagai minuman bermutu rendah. Teh belum mendapat penghargaan yang cukup layak di tingkat petani hingga konsumen.

Di berbagai restoran Indonesia, minuman teh umumnya disajikan sebagai minuman gratis. Di rumah-rumah tangga, teh dicap sebagai minuman rakyat jelata. Sampai-sampai jika seorang tamu disuguhi teh, tuan rumah akan meminta maaf karena hanya bisa menyajikan secangkir teh, bukan segelas sirup atau minuman soft drink.

Hal-hal itu menunjukkan masih rendahnya apresiasi masyarakat terhadap teh. Sebagian besar orang Indonesia bahkan belum mengetahui setiap teh yang dihasilkan dari berbagai perkebunan teh memiliki aroma dan cita rasa berbeda.

Apalagi soal kualitas, masih banyak masyarakat yang belum mengenalinya. “Sebagian besar orang Indonesia tidak peduli aroma dan rasa teh,” ujar Nana Subarna, Ketua Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo).
APRESIASI yang rendah itu menyebabkan konsumsi teh Indonesia hanya mencapai 310 gram per kapita per tahun. Padahal, konsumsi dikatakan tinggi jika angkanya mencapai 500 gram per kapita per tahun.

Konsumsi teh Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain yang tidak menghasilkan teh, seperti Irak dan Inggris. Menurut data dari Dinas Perkebunan Jawa Barat, pada tahun 2003, konsumsi teh Irak mencapai 2.770 gram per kapita per tahun, sedangkan Inggris mencapai 2.260 gram per kapita per tahun. Dari segi konsumsi, Indonesia menduduki peringkat ke-22.

Untuk mempromosikan teh, Dinas Perkebunan Jawa Barat bekerja sama dengan berbagai perusahaan teh menyelenggarakan Festival Teh di Bandung dari 3 Desember hingga 5 Desember 2004. Dalam festival ini diselenggarakan pameran, forum ilmiah, dan bisnis teh. Pameran yang diikuti beberapa perusahaan pengolahan teh itu diselenggarakan di halaman Bandung Supermal, sedangkan seminar dilakukan di Hotel Horison Bandung.

Beberapa variasi untuk menyajikan teh ditawarkan beberapa perusahaan minuman teh di pameran. Teh yang biasanya hanya disajikan tawar atau diberi gula sebagai pemanis, divariasikan dengan menambah susu atau madu.

Teh-teh yang divariasikan pada penyajiannya itu disebut teh wangi yang bahannya berasal dari teh hijau. Ada tiga jenis teh yang dikenal di dunia, yaitu teh hitam, teh hijau, dan teh wangi.

KETIGA jenis teh tersebut dibedakan dari cara pengolahannya. Teh hitam merupakan teh yang diolah dengan cara fermentasi. Fermentasi terjadi akibat adanya reaksi enzim dalam daun teh dan oksigen. Ketika aroma teh sudah sampai taraf puncak, proses fermentasi dihentikan lewat pengeringan.

Seduhan dari teh hitam biasanya lebih pekat. Warnanya nyaris hitam atau merah. Teh hitam Indonesia lebih banyak dihasilkan oleh perusahaan besar, dan biasanya untuk diekspor. Sementara teh hijau diolah dengan cara tanpa fermentasi.

Agar tidak terjadi fermentasi, enzim dalam daun teh dibunuh dengan cara pengeringan. Seluruh teh hijau di Indonesia diproduksi perkebunan rakyat serta perusahaan pengolahan teh rakyat. Sebanyak 90 persen diproses menjadi teh wangi.

Teh wangi adalah teh yang diperuntukkan bagi minuman. Berasal dari teh hijau yang dicampur dengan bunga, seperti melati, sebagai penambah aroma.

Delima Hasri Azahari dari Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian mengatakan, “Sebetulnya aroma dan rasa teh yang dihasilkan setiap wilayah di Indonesia berbeda-beda. Hanya saja, tidak banyak masyarakat yang tahu soal ini.”

Ditambahkan, pihaknya akan berupaya mempromosikan variasi aroma dan rasa teh Indonesia yang berbeda-beda itu.

Soal posisi, menurut Insyaf Malik, Ketua Asosiasi Teh Indonesia (ATI), teh Indonesia yang diekspor dianggap belum memiliki identitas. Padahal, India dan Sri Lanka sudah mencantumkan logo teh pada kemasan teh mereka sehingga posisi teh kedua negara ini cukup baik di negara lain.

ATI sudah membuat beberapa logo untuk diusulkan, yaitu menampilkan gambar cangkir dan wayang.

Indonesia mempunyai sejarah panjang soal teh. Teh dibawa ke Indonesia oleh Dr Andreas Cleyer sebagai tanaman hias pada tahun 1686. Setelah 42 tahun, Pemerintah Belanda mendatangkan biji-biji teh dari China untuk dibudidayakan di Pulau Jawa.

Budidaya teh baru berhasil pada tahun 1824 setelah ahli bedah tentara Hindia Belanda, Dr Van Siebold, yang pernah meneliti di Jepang mempromosikan dan membudidayakan bibit teh dari Jepang.

Perkebunan teh dipelopori Jacobson pada tahun 1828 dan menjadi komoditas yang menguntungkan Pemerintah Hindia Belanda. Saat terjadi politik tanam paksa, teh harus ditanam oleh rakyat. Setelah kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan teh diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.

Lebih dari tiga abad teh dikembangkan di Indonesia, tetapi tanaman ini masih dihidangkan malu-malu. “Maaf, cuma bisa menyuguhkan teh.” Begitu biasanya kalimat yang meluncur dari tuan rumah di Indonesia kepada tamunya.

Gengsi teh memang masih kalah dari sirup atau soft drink. Aih, kapan ya kita bisa bilang dengan bangga, “Silakan minum teh Indonesia.”  

~ by femi adi soempeno on January 23, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: