Teh Kemasan di Kebun Teh

Senikmat-nikmat minuman adalah teh, dan senyaman-nyaman suasana adalah menghirup udara segar dari kawasan perkebunan teh. Lantas apa jadinya kalau teh yang nikmat itu diminum di perkebunan teh? Nikmat dan nyaman akan berkolaborasi.

Tetapi nanti dulu. Belum tentu senikmat dan senyaman yang kita bayangkan. Setidaknya dalam ukuran apakah yang kita “nikmati” dan “nyamani” itu menjadi natural dan alamiah. Sebab, saya punya pengalaman yang agak menjengkelkan.

Pekan lalu, selepas urusan dukacita seorang kerabat, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke perkampungan di sekitar Muara Labuh, Sumatera Barat. Tujuan pertama adalah menengok kota Sangir, yang jadi ibukota daerah pemekaran baru, Solok Selatan. Dalam perjalanan Muara Labuh-Sangir inilah, saya menjumpai kawasan perkebunan teh yang sejuk dan nyaman.

Saya menikmati perjalanan ini karena mengingatkan kenangan beberapa tahun silam ketika travelling ke Gunung Kerinci. Suasana alamnya memang mirip sekali, maklum, Solok Selatan (Sumbar) memang berbatasan dengan Kabupaten Kerinci (Jambi). Sepanjang jalan yang dilewati adalah perbukitan. Dan sebagian besar perbukitan itu terhampar kebun teh yang hijau dan rapi.

Di daerah Padang Aro, saya memutuskan singgah untuk makan siang di sebuah rumah makan sederhana yang berada di kawasan perbukitan di pinggir jalan. Meski tidak tertulis sebagai Warung Padang, menu di rumah makan ini sudah pasti menu masakan minang. Pedas dan berminyak. Bagian belakang rumah makan ini adalah jurang yang di bawahnya terdapat kali jernih berbatu besar-besar. Gemercik suara airnya membuat suasana bersantap nyaman sekali. Serasa di alam terbuka. Di seberang rumah makan adalah perkebunan teh.

Cerita yang menarik bukan soal sungai atau kebun. Tetapi justru ketika saya memesan segelas teh es tawar. Bukan karena hendak mencicipi teh di kebun teh, tetapi karena saya memang biasa minum teh tawar. Ya, apapun makanannya, minumnya tetap teh tawar hehehe… Sayangnya, ketika teh es tawar pesanan saya tiba, saya harus kecewa.

Ya, ternyata, teh yang disuguhkan pemilik warung adalah teh celup kemasan dan bermerk. Memang tak ada yang salah dengan itu, kecuali satu hal; betapa produksi massal dari pabrik telah menembus bahkan hingga ke sumber produksinya. Di sebuah kawasan perkebunan teh, yang menjadi penghasil bahan baku teh, saya harus minum teh celup kemasan buatan pabrik di Jawa! Ini sama dengan pengalaman sebagian penduduk di Muara Badak, Bontang, yang harus memasak dengan kayu bakar karena tak sanggup beli gas LPG. Padahal, di sebelah rumah mereka adalah pabrik LPG!

Dalam hal teh kemasan di kebun teh itu, terpikirlah di benak saya bagaimana pucuk-pucuk teh dari perkebunan tersebut dipanen, dikirim lewat truk-truk bermuatan penuh ke pabrik-pabrik teh di Jawa, lantas diolah menjadi racikan di dalam kertas celup, dikemas rapi-rapi dan dilabeli merk. Rantai produksi membuat teh celup tersebut pada saatnya akan kembali ke perkebunan teh, tempat asal teh itu bermula.

Saya membayangkan, di rumah makan itu, saya bakal minum teh yang diseduh dari daun-daun yang dipetik dari perkebunan teh setempat. Tanpa melalui proses mesin-mesin pabrik dan campuran saos serta aroma. Sayangnya, saya hanya bisa sebatas membayangkan saja. Teh yang saya minum di kebun teh itu sama rasanya seperti teh yang selama ini saya minum.

sumber: windede.com
 

~ by femi adi soempeno on January 12, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: