Budaya minum teh masih rendah

BANDUNG, (PR).- Kurangnya minat masyarakat untuk minum teh menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan produksi teh. Hal itu terbukti dari berlimpahnya produksi teh sebanyak 200.000 ton/ tahun, namun hanya 60 ton yang dikonsumsi dalam negeri. 

GUBERNUR Jabar Danny Setiawan melakukan peninjauan di stan-stan Pusat Penelitian Teh dan Kina yang menampilkan miniatur mesin teh hijau, pada Festival Teh Nasional di CiWalk Jln. Cihampelas Bandung, Sabtu (9/12).*RIRIN N.F./”PR”
Demikian diungkapkan Dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian Prof. Dr. Djoko Said Damardjati, usai membuka acara Festival Teh Nasional di Cihampelas Walk di Jln. Cihampelas, Sabtu (9/12).

Selain tingkat konsumsi, mutu produk teh petani pun masih rendah. ”Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas yaitu dengan meningkatkan pasar, melalui event festival seperti ini,” katanya.

Kendala peningkatan produksi juga muncul ketika terjadi serangan teh impor hingga 5.500 ton pada 2006. “Kualitas, diversifikasi rasa, dan pengemasan harus diperbaiki sehingga bisa mendongkrak minat pasar,” ujar Djoko.

Djoko menganjurkan minum teh lima kali sehari. Teh harus diminum secara berkesinambungan dan teratur untuk menjaga kesehatan. “Kebutuhan minum teh saat ini hanya mengandalkan rasa dan kebiasaan. Harusnya suka minum karena sehat,” katanya.

Zat berkhasiat yang terdapat dalam teh hijau, diantaranya katekin dan kafein. Katekin jenis epigalokatekin dan epigalokatekingalat berperan besar dalam menjaga kesehatan. Diantaranya bersifat antimikroba, antioksidan, antiradiasi, memperkuat pembuluh darah, menghambat pertumbuhan sel kanker. Kafein bersifat stimulan atau perangsang saraf, otot, dan ginjal. Tentunya, jumlah yang terkandung dalam teh kering relatif rendah sehingga tidak menyebabkan seseorang menjadi gelisah.

Meski jenis teh di Indonesia kebanyakan low class, Djoko berpendapat, gencarnya promosi dan sosialisasi untuk minum teh harus terus dilakukan.

Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, menilai, para petani yang tergabung dalam Bandung Tea Centre harus merekomendasikan peningkatan kualitas produknya. Meski produksi teh Jabar menyumbang 30% produksi nasional, di daerah sendiri belum terserap secara signifikan. “Petani harus menawarkan produk yang kompetitif, sehingga budaya minum teh menjadi kebiasaan masyarakat Jawa Barat,” katanya.

sumber: pikiran rakyat

~ by femi adi soempeno on January 8, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: