Poci teh

JAKARTA – Dalam budaya Indonesia, minum teh adalah minum air yang mengandung seduhan daun teh, lain tidak. Untuk menambah nikmat biasanya ditambahkan gula. Biasanya minuman teh disajikan pada pagi, siang, atau sore hari, dan seringkali tak ada aturannya. Jika ingin minum teh, kita tinggal buat sendiri atau pesan. Wadahnya sesukanya, bisa gelas bisa cangkir. Diminumnya nikmat jika mengangkat kaki sambil mengunyah singkong goreng atau rebus. 

Poci untuk minum teh cirinya cenderung bulat dan memiliki corong pendek. Volumenya cukup untuk 2-4 cangkir. Jika ingin ditambahkan air kembali, sebaiknya ampasnya dibuang dan ganti dengan teh baru. Menambah teh tanpa membuang ampas akan membuat rasa dan aroma tak utuh. 

Minum teh di sini sangat berbeda dengan tradisi minum teh di negeri Jepang yang masyarakatnya menghormati teh. Sampai-sampai untuk minum teh saja, mereka lakukan dengan upacara. Terlepas dari sejarah, kini minum teh semakin populer dan terkenal ke berbagai penjuru dunia. 

Sejalan dengan kepopulerannya, maka tata cara penyeduhan dan penyajian teh pun semakin banyak dikenal baik di Asia maupun Eropa. Perangkat minum teh yang biasa disebut poci, teko, atau cawan, dengan cangkir-cangkirnya bentuknya menjadi beragam. Orang suka menyebutnya sebagai tea set. Terdiri dari sebuah teko, dan dua sampai 4 cangkir.
Di Indonesia walau minum teh tak memerlukan perlakuan khusus, namun orang kini gemar menggunakan teko khusus yang terbuat dari gerabah, keramik atau porselen. Untuk yang terbuat dari gerabah dan yang terkenal adalah poci yang berasal dari Tegal di Jawa Tengah. Bentuknya khas dan diduga mengadaptasi model poci Cina. 

Untuk poci porselen atau keramik, buatan Indonesia tak kalah mutunya dengan buatan Eropa atau Jepang. Bahkan variasi modelnya lebih kentara Indonesia. Berbeda dengan luar negeri yang mahal, tea set produk lokal harganya murah.
Produk-produk itu banyak dijumpai di berbagai mal. Ada yang buatan tangan namun cenderung eksklusif, dan pabrik yang pembuatannya memakai mesin. Bagi penggemar teh bisa dipastikan di rumahnya tersimpan satu set poci. Jika kedatangan tamu khusus biasanya baru dikeluarkan.

Salah satu tempat penghasil poci teh yang terkenal di dunia adalah Yixing di provinsi Jiangsu, dekat kota pelabuhan terbesar, Shanghai, Cina. Uniknya, 60% penduduknya dari populasi sekitar satu juta orang, adalah perajin dan seniman pembuat poci teh. Mereka otodidak karena ilmunya diperoleh secara turun-menurun.

Tradisi ini dimulai sejak Dinasti Sung. Namun mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Dinasti Ming, sekitar 1506-1521 SM ketika hasil karya seni poci teh amat diminati kalangan keluarga kerajaaan.

Bagi peminat dan kolektor keramik Cina, tak habis pikir akan kehebatan imajinasi dan daya cipta poci buatan mereka. Soalnya, masyarakatnya tak pernah kenal dunia luar, namun dalam penuangan model amat kaya dan orisinal. Menurut Liliana, pemilik Studio Keramik ‘Teratai,” di balik keindahan desain poci, di mana pun itu dibuat, pasti diawali dengan cita rasa tinggi si pembuatnya. Bahkan ada rangkaian proses pembuatan yang cukup panjang dan rumit. Yang pasti dibutuhkan suatu keterampilan, kesabaran dan ketelitian dalam tiap tahap sebelum mencapai hasil akhir yang sempurna.
Ada perbedaaan antara poci untuk teh dan kopi. ”Poci untuk kopi biasanya lebih tinggi dan bercorong lebih panjang. Ini gunanya agar ketika dituang, bubuk kopi tak ikut tertuang. Bentuk yang tinggi itu juga untuk memberi ruang buat endapan bubuk kopi. Corong yang tinggi itu untuk mengontrol air agar keluar lebih sempurna,”ujar Lili, panggilannya.

Bahan untuk pembuatan poci keramik, tambahnya, macam-macam. Ada yang ringan yang berbahan dasar dolomite, dan porselen. Di Indonesia umumnya keramik dibuat dari tanah liat (clay). Bahan yang terakhir ini di sini mudah dan hasilnya cukup keras, ketimbang dua bahan sebelumnya, yang ketika jadi barang, mudah pecah.

Yang membuat poci Yixing terkenal adalah karena bahan dasarnya hanya terdapat di sana yakni tanah liat ungu (purple clay). Tanah liat ini mengandung berbagai macam zat besi yang teroksidasi. Tanah itu diambil dari gua dengan cara menggali berkedalaman 150-200 meter.

Tanah liat di Yixing terdiri atas empat warna, yaitu ungu, merah/terakota, hitam, dan kuning yang berbentuk bongkahan keras. Bongkahan ini dibawa ke pabrik dan dijemur di tempat terbuka selama seminggu, supaya terkena sinar matahari atau air hujan sehingga jadi hancur dan lunak.

Selanjutnya, serpihan tanah liat tadi dimasukkan ke dalam mesin penghancur untuk dilumatkan dan dicampur air dingin, lalu dicetak berbentuk silinder. Adonan itu disimpan dalam gudang selama sepuluh hari, sehingga bentuknya semakin padat.

Setelah itu adonan dimasukkan ke dalam mesin yang memiliki pipa untuk divakum agar lebih padat dan menyerap air. Saat keluar dari mesin, tanah liat sudah berupa adonan kotak-kotak seberat 20 kilogram. Adonan inilah yang jadi bahan dasar tanah siap pakai untuk membuat poci.

Proses yang dilakukan para keramikus Indonesia tak jauh berbeda. Bedanya hanya tidak dilakukan proses vakum. Pembuatannya pun sudah memakai teknik pembakaran suhu tinggi yang bisa mengubah struktur molekul tanah liat menjadi batu. Makanya, sambung Lili, hasil akhir disebut stoneware. Poci yang terbuat dari stoneware telah melewati pembakaran di atas 1.000 derajat sehingga tahan panas, namun tak tahan api.

Merunut sejarah, tradisi minum teh itu sebenarnya berasal dari daratan Cina. Teh tumbuh di Tiongkok sekitar 6.000 tahun yang lampau dan manusia telah membudidayakan teh sejak 2000 tahun lalu. Bersama dengan sutra dan porselen, teh yang berasal dari Tiongkok ini mulai dikenal dunia lebih dari 1000 tahun lalu.

Budaya minum teh menyebar ke Jepang sekitar abad ke-6 dan diperkirakan menjadi tradisi di Jepang selama masa Kamakura (1192-1333) oleh pengikut Zen. Kebiasaan pengikut aliran Zen minum teh agar mereka tetap terjaga selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Selama abad ke-15, ini menjadi acara tetap berkumpul di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal. Selanjutnya, masuk ke Eropa dan Amerika di abad 17 dan 18.

Di Negeri Sakura upacara minum teh masih berlangsung hingga kini. Diadakan di tempat khusus yang disebut cha-shitsu. Semua dijalankan dengan tata krama yang khas dan standar baku. Urutannya, para tamu duduk berlutut di bawah. Tuan rumah, menempatkan diri di depan mereka dengan di hadapan sudah tersaji berbagai peralatan, antara lain mangkuk untuk air buangan, sendok dari bambu, tempat teh, dan sebagainya.

Acara minum teh ini biasanya berlangsung satu setengah jam. Jika dengan makanan kecil, diperlukan waktu lebih lama lagi, 3-4 jam. Yang tak biasa, siap-siap pegal.

Menurut ahli seni minum teh ala Jepang, hakikat upacara itu adalah setiap pertemuan antarmanusia mempunyai arti khusus. Tuan rumah memutuskan peristiwa-peristiwa apa saja yang akan dirayakan dan peralatan teh macam apa yang akan dipilih. Ketika tetamu datang dan merayakan bersama, maka tercipta hubungan yang erat di antara mereka. Bahasa kerennya, sebuah mikrokosmos dalam lingkaran makrokosmos.

Orang Inggris termasuk pehobi berat minum teh. Acara minum yang biasa dilakukan mereka selalu sore sambil ngemil makanan kecil.

Kini sudah lebih dari 40 negara memproduksi teh dan negara-negara Asia memproduksi 90 persen dari total komoditi teh di dunia. Bayangkan berapa banyak pula perangkat minum teh yang sudah dibuat dan akan dibuat. Pasar yang bagus bagi perajin keramik, mungkin.

sumber: sinar harapan

~ by femi adi soempeno on January 5, 2007.

One Response to “Poci teh”

  1. Saya may order untuk teko teh poci, sebelumnya mohon diinfo model teh pocinya dan harganya berapa,, thanks

    ully

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: